Inflasi Sumut Lebih Rendah dari Nasional, Harga Komoditas Terkendali

Ilustrasi pedagang komoditas pangan. Ist

Fokusmedan.com : Realisasi laju tekanan inflasi di Sumatra Utara (Sumut) mencapai 0.46% secara bulanan (Desember 2021). Dan secara tahunan, inflasi di Sumut merealisasikan angka 1.71%, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional.

Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, hal itu pencapaian baik, karena gejolak inflasi dari harga pangan di Sumut masih lebih terkendali dibandingkan dengan wilayah lainnya. Pencapaian inflasi sebesar itu bukan karena Sumut yang kecolongan dari kenaikan harga tetapi memang lebih dikarenakan tarikan harga di luar wilayah Sumut.

“Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di Sumut lebih dipicu oleh kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di wilayah lainnya. Ini terlihat dari pantauan saya selama satu bulan terakhir di mana sejumlah harga komoditas lebih murah bahkan dibandingkan wilayah di luar,” katanya, Selasa (4/2/2021).

Tetapi, lanjut dia, ini harus dijadikan pelajaran berharga. Di mana sekalipun Sumut mampu menghadirkan stok pangan yang cukup akan tetapi tidak menggaransi bahwa harga pangan akan mampu dikendalikan. Selama ada kecenderungan harga yang lebih mahal di luar Sumut maka harga pangan bisa ikut terkerek.

Sekalipun inflasi Sumut masih mampu di bawah nasional, tambahnya, tetapi kita tidak harus berpatokan ke inflasi nasional tersebut. Pertumbuhan ekonomi harus diperhitungkan sebagai basis perhitungan apakah inflasi itu wajar, terlalu rendah atau terlalu tinggi.

“Pertumbuhan ekonomi harus jauh di atas inflasi, sehingga bisa disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Sumut menunjukan adanya perubahan nasib yang signifikan bagi masyarakat Sumut,” ujarnya.

Ia melanjutkan, selama tahun 2021, triwulan I pertumbuhan ekonomi Sumut -1.85%, triwulan II 4.95% dan triwulan III 3.67%. Dan triwulan keempat baru akan dirilis datanya di awal bulan Februari mendatang. Dari data tersebut, realisasi pertumbuhan ekonomi bisa saja bergerak dalam rentang 2% hingga 3.5% nantinya.

Tetapi diharapkan direalisasi 3.5%, karena kalau hanya 2% itu angkanya belum menjauh dari realisasi inflasi sebesar 1.71%. Kalau lebih rendah dari 2% ini SUMUT bisa saja dikatakan ekonominya tidak tumbuh meskipun data menunjukan ekonomi Sumut tumbuh.

“Saya yakin realisasi pertumbuhan ekonomi Sumut akan mampu jauh di atas inflasi Sumut, salah satu pemicunya adalah¬†booming¬†harga komoditas khususnya kelapa sawit,” tuturnya.

Tentunya, hal ini bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Sumut di kuartal keempat 2021. Ia berharap pemerintah daerah atau TPID tidak berpuas diri dengan realisasi inflasi Sumut tersebut.(ng)