Pasien Omicron di RSPI Sulianti Saroso Alami Penggumpalan Darah

Ilustrasi pasien Omicron. iStockphoto

Fokusmedan.com : Kasus Omicron di Indonesia bertambah 21 orang pada Rabu (29/12/2021) kemarin, sehingga jumlah kasus positif saat ini ada 68 pasien Omicron. Namun, ditemukan pasien Omicron yang mengalami penggumpalan darah di RSPI Sulianti Saroso.

Sebanyak 16 pasien Covid-19 varian Omicron sudah menjalani karantina di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta.

Ketua Pokja Pinere (Penyakit Infeksi, New Emerging, dan Reemerging) RSPI Sulianti Saroso, dr Pompini Agustina Sitompul, Sp.P (K) memaparkan ada beberapa kasus konfirmasi positif varian Omicron yang memiliki komorbid.
Dia juga mengatakan bahwa telah ditemukan pasien yang mengalami hiperkoagulasi atau penggumpalan darah.

“Memang ada beberapa kasus konfirmasi yang memiliki komorbid dan sudah muncul hiperkoagulasi, meskipun pasien ini merasa tanpa gejala,” jelas Pompini dikutip dari Kompas.com, Jumat (31/12/2021).

“Tapi, apakah hiperkoaguloasi (pada pasien) itu tidak terus berdampak pada paru, atau pada ginjal, atau jantung, itu yang harus kita tetap waspadai, ” tambahnya.

Kendati demikian, dia masih mendalami apakah hiperkoagulasi atau penyebab penggumpalan darah yang dialami pasien Omicron tersebut dipicu oleh infeksi varian Omicron atau disebabkan penyakit bawaan.

Terkait penggumpalan darah pasien Omicron, sebagai informasi, hiperkoagulasi atau sindrom kekentalan darah merupakan kondisi di mana mudah terjadi penggumpalan darah di tubuh.

Normalnya, penggumpalan darah terjadi sebagai mekanisme untuk menghentikan perdarahan.

Gumpalan darah (trombus atau emboli) yang terbentuk dapat mengalir di pembuluh darah.
Maka, gumpalan yang menyumbat pembuluh darah itu akan menghambat aliran darah dan oksigen.

Kemudian, dr Pompini menjelaskan bahwa gejala yang tampak pada pasien Omicron di RSPI, pada awal tiga hari pertama infeksi, cenderung sama seperti varian Covid sebelumnya.

Beberapa gejala Omicron yang muncul termasuk pilek, hidung tersumbat, sakit kepala, dan kelelahan.

Namun dia menegaskan masih perlu pemantauan lebih lanjut mengenai gejala di hari-hari berikutnya, terkait apakah Covid varian Omicron itu dapat menyerang sistem pernapasan atau tidak.

“Tetapi yang harus kita waspadai adalah apakah gejala sebatas ringan atau betul tadi disebutkan virus tidak menginfeksi sel paru-paru. Ingat, reseptor ini tetap ada dan bisa menempel,” imbuhnya.

Di samping mengisolasi kasus Omicron yang tanpa gejala dan gejala ringan, RSPI Sulianti Saroso juga sudah melakukan isolasi kasus probable varian B.1.1.529 ini.

Dokter Pompini membeberkan tata laksana atau penanganan pada pasien Omicron di RSPI Sulianti Saroso, yakni menempatkan pasien perjalanan internasional di ruangan isolasi yang berbeda.

Selain itu, mereka juga diberikan multivitamin, dukungan psikologis, serta rehabilitasi medik.
Dia berharap dengan cakupan vaksinasi di Indonesia angka rawat inap di rumah sakit dan kematian akibat Covid-19 tidak akan meningkat.

“Saya rasa yang khas lagi pada RS Sulianti adalah kita mengatur masuknya pasien dengan flow yang cepat, tidak mengontaminasi banyak petugas kesehatan, langsung diarahkan pada ruangan yang disiapkan untuk melakukan penempatan isolasi pasien,” pungkasnya.(ng)