Harga LPG Naik, Ancaman Inflasi Tinggi di Tahun 2022 Itu Memang Nyata


Harga LPG non subsidi mengalami kenaikan. Antara

Fokusmedan.com : Kenaikan harga LPG nonsubsidi berkisar 1.600 hingga 2.600 per Kg mengawali tekanan daya beli masyarakat di tahun depan. Setelah sebelumnya kenaikan cukai rokok juga akan memicu terjadinya kenaikan harga jual rokok.

Menurut ekonom Sumut, Gunawan Benjamin, di tahun depan, ancaman inflasi itu sudah mulai terlihat jelas. Dan kenaikan harga LPG non subsidi, tentunya akan mendapat resistensi dari para ibu rumah tangga.

“Kenaikan harga LPG ini diambil seiring dengan kenaikan harga energi dunia. Kalau yang saya lihat itu harga┬ánatural gas┬áselama tahun 2021 mengalami kenaikan setidaknya 67% sejak awal tahun. Dan di tahun lalu harga gas alam juga mengalami kenaikan sebesar 12%. Memang tidak mudah untuk mensiasati kenaikan harga LPG ini, sehingga diambilah jalan menaikkan harga di tingkat konsumen,” ujar Gunawan, Rabu (29/12/2021).

Sayangnya, lanjut dia, kenaikan harga gas diambil berbarengan dengan kenaikan sejumlah harga kebutuhan lainnya. Ditambah lagi memang ada kenaikan atau ancaman inflasi di tahun mendatang.

“Saya khawatir justru bukan hanya kenaikan harga LPG non subsidi yang naik saat ini. Jika terjadi kenaikan pada komoditas energi dunia di tahun mendatang, bukan tidak mungkin harga bahan bakar yang lain juga berpeluang untuk disesuaikan atau naik harganya,” tandasnya.

Selain LPG, pertamina sudah bilang kalau premium bakal dihapus, pertalite masih akan tersedia. Sekarang LPG harganya dinaikkan, dan potensi pemulihan ekonomi dunia di tahun depan juga berpeluang mendongkrak permintaan akan bahan bakar yang tinggi.

Walaupun pada dasarnya harga gas alam dunia berfluktuasi, namun tren inflasi tinggi di negara maju saat ini menunjukan kalau kedepan adalah ancaman kenaikan harga yang lain dan sulit untuk dihindarkan.

Di sisi lain, kita masih berpacu untuk memperbaiki daya beli masyarakat. Sayangnya belum ada kepastian kapan wabah pandemi Covid-19 ini akan hilang dan memulihkan kondisi ekonomi masyarakat. Jadi sebelum ekonomi tumbuh bagus, ancaman inflasi sudah ada di depan mata.

“Pada dasarnya kita tidak bisa menyalahkan pemerintah atau pertamina secara sepihak. Kenaikan harga gas ini lebih dikarenakan harga dasarnya yang mengalami kenaikan,” terangnya.

Posisi seperti ini sangat dilematis, tidak ada satupun opsi yang benar-benar bisa menyenangkan kedua belah pihak (pemerintah dan konsumen LPG non subsidi). Dan ini masih bicara mengenai LPG. Kalau dikaitkan dengan hilangnya premium atau kenaikan cukai rokok, ini juga bisa mendorong kenaikan pada sejumlah harga lainnya.

“Jadi ancaman inflasi di tahun depan sudah terlihat nyata. Untuk Sumut sendiri, kita selalu lebih baik dalam mengendalikan harga kebutuhan pangan dibandingkan dengan wilayah lain. Tetapi khusus untuk Rokok, LPG, maupun penghapusan premium, maka tanpa terkecuali Sumut juga menghadapi masalah yang sama dengan wilayah lain,” pungkasnya.(ng)