Munculnya Varian Omicron Ganggu Pertumbuhan Ekonomi Global


Fokus
medan.com
: Pertengahan kuartal IV tahun 2021 muncul varian terbaru dari virus corona, omicron. Varian asal Afrika Selatan ini berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi global di akhir tahun. Kemunculannya menambah beban peningkatan inflasi yang terjadi di sejumlah negara.

Mengutip data terkini dari Bloomberg, pada 3 bulan terakhir ekonomi global hanya berkembang 0,7 persen. Angka ini lebih rendah dari perkembangan 2 bulan di kuartal III yang bisa tumbuh sekitar 1 persen.

Kepala Ekonom Bloomberg, Tom Orlik mengatakan, kinerja pertumbuhan ekonomi global di akhir tahun berisiko setelah munculnya varian omicron. Keberadaanya mampu mengganggu rencana pertumbuhan ekonomi dunia.

“Saat 2021 berakhir, risiko pemulihan ekonomi global terlempar keluar jalur karena varian omicron,” kata Tom dilansir dari Bloomberg.com, Jakarta, Minggu (26/12).

Pertumbuhan ekonomi di kawasan Euro berada pada kecepatan ekspansi 0,8 persen selama 3 bulan kuartal IV tahun ini. Angka ini lebih rendah 0,3 persen dari proyeksi pada bulan November.

Sementara itu, yang terjadi di Amerika Serikat justru menguat dengan kecepatan 1,2 persen. China pada kuartal IV ini juga menunjukkan tren pelemahan ke tingkat 4,5 persen. Brazil turun ke level 0,2 persen. Sedangkan Rusia, India dan Afrika Selatan juga tergelincir.

“Khusus Eropa beberapa negara yang terlihat rentan pemulihan nya yakni Jerman, Prancis dan Italia karena semakin tertekan akibat lonjakan kasus,” tutur Tom.

Pemulihan ekonomi negara-negara kawasan Eropa masih di bawah tekanan akibat lonjakan kasus Covid-19. Ekspansi yang dilakukan China dari tahun ke tahun menurun dari 4,9 persen menjadi 4,5 persen.

Lebih buruk lagi, semua negara berkembang melambat dalam sebulan terakhir, dipimpin oleh penurunan di Brasil. Pada basis bulanan, kawasan Euro dan Jepang keduanya lebih lemah pada bulan Desember dibandingkan November. Sementara Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris menguat.

Satu sisi positifnya setelah melemah pada kuartal ketiga, Negeri Paman Sam berakselerasi menjadi 4,9 persen dari 2,1 persen pada basis kuartalan. Meskipun masih dibayangi inflasi yang meningkat terus, termasuk membayangi ekonomi dunia juga.

Antisipasi Kenaikan Inflasi

Tren inflasi sejumlah negara yang meningkat mendorong lebih banyak bank sentral untuk memperketat kebijakan moneter.

Bank of England pekan lalu menaikkan suku bunga utamanya untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Sementara The Fed membuka jalan untuk menghabiskan 2022 menaikkan suku bunga utamanya dari mendekati nol setelah mengakhiri program pembelian asetnya pada bulan Maret.

Bloomberg Economics memperkirakan Brasil, Meksiko, Norwegia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan akan menjadi salah satu bank sentral yang menaikkan biaya pinjaman pada kuartal pertama 2022.

Dalam kondisi seperti ini Tom memperkirakan Amerika Serikat dan kawasan euro masih memiliki ekonomi yang lebih kecil daripada yang akan terjadi tanpa virus. Namun, China telah mendapatkan kembali tren pra-Covid.(yaya)