Luhut Ingatkan Jelang Nataru agar Tak Terulang Pembatasan Sosial yang Ketat

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Ist

Fokusmedan.com : Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan seruan agar tak terulang pembatasan sosial yang ketat.

Seruan Luhut disampaikan seiring dengan kebijakan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali hingga 13 Desember 2021 mendatang.
Luhut memaparkan data terkait mobilitas masyarakat berdasarkan hasil survei Google Mobility Jawa-Bali dan Indeks Belanja Masyarakat.

Ia menyebut, data tersebut menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat sudah cukup signifikan dibandingkan data pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020 dan mendekati periode libur Idul Fitri 2021.

“Oleh karena itu, kita harus berhati-hati terhadap indikasi adanya kenaikan kasus dan mobilitas, terutama menghadapi periode Nataru supaya tidak terulang pembatasan sosial yang ketat,” seru Luhut dalam keterangan resmi, dikutip Kompas.com, Selasa (30/11/2021).

Menurut Luhut, kemungkinan adanya pengetatan pembatasan sosial ini harus dijadikan sebagai pengingat untuk lebih taat protokol kesehatan dan 3T, bukan untuk menimbulkan kepanikan.

“Saat ini, jumlah testing dan tracing kita pun sudah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bulan November tahun lalu. Tingkat vaksinasi kita juga sudah di atas 60 persen dibandingkan dengan tahun 2020 di saat program vaksinasi belum berjalan,” sebutnya.

Selain itu, Luhut juga meminta masyarakat tak panik karena pemerintah telah memiliki aplikasi yang terintegrasi yakni PeduliLindungi, yang perlu untuk terus ditegakkan penggunaannya.

Sejalan dengan itu, Luhut juga memaparkan tentang perkembangan kasus varian Omicron yang telah menyebar di beberapa negara, seperti Afrika Selatan, Botswana, Jerman, Belgia, Inggris, Israel, Australia, dan Hongkong.

Untuk itu, pemerintah telah mengambil langkah-langkah kebijakan yang telah diumumkan sebelumnya dan akan terus mengevaluasi kebijakan setiap saat.

Ini dilakukan untuk meminimalisasi dampak dari masuknya varian baru ini. Kendati demikian, Luhut meminta agar masyarakat tidak panik dengan adanya varian Omicron.

“Kita hanya perlu waspada dan berjaga-jaga dengan kembali mengetatkan penerapan protokol kesehatan yang sudah mulai terlihat abai ini,” tegas Luhut.

Ia ingin agar masyarakat tetap taat protokol kesehatan agar peningkatan kasus secara signifikan pada bulan Juli lalu tidak terjadi kembali.

Lebih lanjut, Luhut juga menyampaikan penjelasan terkait perpanjangan PPKM Jawa-Bali hingga 13 Desember 2021 mendatang.
Berdasarkan hasil asesmen 27 November 2021 terdapat penambahan 23 kabupaten/kota yang masuk ke dalam level 2 dan sebanyak 8 kabupaten/kota yang masuk ke dalam level 1.

Berdasarkan asesmen dari World Health Organization (WHO), 10 kabupaten/kota yang kembali ke level 2 di antaranya berada di wilayah Jabodetabek yang terjadi akibat turunnya angka tracing (penapisan) anggota aglomerasi di wilayah Jabodetabek.

Kendati demikian, secara umum dia menegaskan bahwa PPKM di Jawa-Bali diperpanjang untuk menjaga stabilitas tren peningkatan kasus.

“Penerapan PPKM yang masih terus dilakukan di Jawa-Bali menunjukkan tren yang cukup stabil,” ucap Luhut.

Hal ini dibuktikan dengan jumlah kasus covid yang terus terjaga pada tingkat yang cukup rendah. Kasus konfirmasi terus ditekan dan penurunannya ada di angka 99 persen sejak puncak kasus bulan Juli lalu.

Walaupun tren Covid-19 di Jawa-Bali cenderung stabil, Luhut juga menjelaskan bahwa saat ini terjadi peningkatan nilai Rt (penambahan kasus aktif nasional). Spesifik di Jawa-Bali, peningkatannya terjadi 4 hingga 5 hari berturut-turut pada periode awal munculnya varian Delta.(ng)