Rupiah dan IHSG Memburuk, Karena UU Cipta Kerja?

Ilustrasi kinerja Rupiah melemah. Ist

Fokusmedan.com : Kinerja pasar keuangan merosot tajam pada perdadagangan akhir pekan ini. Baik mata uang rupiah maupun US Dolar mengalami penurunan kinerja yang sangat buruk.

Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, sejumlah sentimen negatif memang tengah menghantui kinerja pasar keuangan. Salah satu sentimen pasar dari tanah air adalah keputusan MK (Mahakamah Konstitusi) yang menilai bahwa UU Cipta Kerja inkonstitusional.

“MK memutuskan agar UU tersebut diperbaiki setidaknya dalam kurun waktu 2 tahun ke depan. Keputusan tersebut memang bisa saja mempengaruhi investor. Tetapi apakah hanya sentimen tersebut yang membuat kinerja IHSG maupun Rupiah melemah?. Pada hari ini, sejumlah bursa di Asia juga turut mengalami kinerja yang buruk,” katanya, Jumat (26/11/2021).

Bursa Hang Seng dan Nikkei mengalami penurunan di atas 2% pada perdagangan hari ini. Sementara itu bursa lainnya seperti Shanghai mengalami penurunan kinerja sebesar 0.5%. Kinerja bursa di asia pada dasarnya juga tidak begitu baik, yang tentunya bisa mempengaruhi kinerja pasar keuangan domestik, khususnya IHSG.

Jadi, lanjutnya, tidak lantas kita bisa menyimpulkan bahwa penurunan kinerja indeks bursa saham sepenuhnya lebih dikaitkan dengan UU Cipta Kerja. Walaupun tetap saja saya menilai bahwa UU Cipta Kerja berpengaruh terhadap IHSG. Akan tetapi kita tidak bisa memastikan secara akurat presentase pengaruhnya.

IHSG pada perdagangan hari ini ditutup di level 6.561,55 atau melemah 2%. Sementara itu, kinerja mata uang Rupiah juga mengalami pelemahan pada perdagangan hari ini. Rupiah terpantau melemah dikisaran 14.347 per US Dolar pada sesi perdagangan sore. Mata uang Rupiah sendiri mengalami kinerja yang buruk meskipun US Dolar Index juga mengalami penurunan.

“Jika berkaca pada kinerja sejumlah mata uang di Asia, US Dolar diperdagangkan menguat terhadap banyak mata uang di Asia. Sehingga jika ditarik suatu kesimpulan, maka pelemahan kinerja IHSG dan Rupiah lebih banyak dipicu oleh kekuatiran penyebaran Covid-19 seiring termuan mutasi Covid-19 dari Afrika,” tuturnya.

Sehingga hal tersebut membuat pelaku pasar khawatir dan melepas sejumlah aset keuangannya. Hal inilah yang menjadi pertimbangan investor yang mengakibatkan adanya tekanan lanjutan di pasar keuangan. Sementara itu, kenaikan laju inflasi di AS yang terus terjadi juga membuat pelaku pasar kian kuatir akan kemungkinan adanya penambahan kebijakan tapering.

“Ada banyak sentimen buruk di akhir pekan yang membuat kinerja pasar keuangan domestik memburuk. Dan di pekan depan, masih ada sjeumlah data perekonomian penting yang jika di cermati masih menjadi sentimen buruk bagi kinerja pasar keuangan,” ucapnya.

Gunawan menambahkan, dua negara besar seperti China dan AS akan merilis data manufaktur. Sementara AS juga lebih banyak merilis data ketenagakerjaan, yang meskipun sejumlah data diperkirakan akan membaik, namun hal tersebut bukan sepenuhnya menjadi kabar baik buat pasar keuangan domestik di pekan depan karena kinerja ekonomi AS yang membaik justru bisa ditafsirkan sebagai kemungkinan penyesuaian kebijakan moneter atau tapering yang lebih cepat.(ng)