Sempat Sentuh 337 Yen Per Kg, Harga Karet Kini Hanya 200-an Yen Per Kg

Harga karet kini hanya 200 Yen per kg. Ist

Fokusmedan.com : Pada awal tahun 2021 harga karet dunia sempat menyentuh 337 Yen per Kg. Namun kondisi saat ini berbalik di kisaran angka 200 yen per Kg.

Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, di awal tahun ekspektasi pemulihan ekonomi sempat menjadi katalis untuk mendukung harga karet. Namun, belakangan ini permintaan karet dari China yang dikhawatirkan tidak pasti karena ada kekuatiran terjadinya gelombang Covid-19 lanjutan.

Sebenarnya, kata dia, ada beberapa sentimen yang membuat harga karet mengalami keterpurukan belakangan ini. Gelombang Covid-19 yang melanda negara-negara besar, kebijakan AS yang kembali melakukan tapering atau pengurangan pembelian aset, adanya ancaman stagflasi di cina, ancaman krisis masalah sektor properti hingga pasokan musiman.

“Sementara itu, kinerja harga karet sebenarnya bisa tertopang dengan kebijakan raksasa dari AS untuk infrastruktur. Atau inflasi di AS yang terus menanjak bisa mendorong kenaikan harga karet itu sendiri. Mungkin bagian yang sulit untuk menterjemahkan bagaimana faktor-faktor tersebut bisa memicu terjadinya penurunan atau kenaikan harga karet,” katanya, Sabtu (13/11/2021).

Tetapi, tambahnya, semakin meningkat seperti ini, saat ini tidak terlihat adanya pemulihan ekonomi secara fundamental atau mendasar, maka harga karet bisa turun seperti yang terjadi. China menjadi salah satu negara yang sebenarnya menjadi lokomotif perubahan harga karet dunia.

“Namun China sendiri tengah berjibaku dengan jumlah krisis seperti gelombang lanjutan Covid-19, evergrande, stagflasi yang membuat investor tidak begitu yakin akan adanya pemulihan permintaan akan karet itu sendiri. Ini yang membuat harga karet cenderung mengalami penurunan.

Selain itu, lanjutnya, otomotif menjadi salah satu sektor yang seharusnya bisa menjadi motor penggerak utama permintaan karet. Namun sayang belum ada penjualan otomotif global yang fantastis yang bisa menjadi penggerak penggerak konsumsi karet itu sendiri.

Jadi, kenaikan harga karet di awal tahun 2021, dan penurunan kembali menjelang akhir tahun ini, menunjukkan bahwa kenaikan harga sebelumnya belum disebabkan oleh faktor-faktor fundamental yang dapat menahan harga karet bertahan untuk waktu yang lama.

Pada dasarnya pembukaan aktifitas ekonomi masyarakat setelah pandemi Covid-19 di banyak negara sebelumnya telah memicu kenaikan harga karet. Tetapi sayang, kuncian kembali menjadi kebijakan yang diambil banyak negara untuk dianggap sebagai jarak pandang Covid-19 lanjutan. Dan hasilnya karet terpaksa kembali turun.

“Tetapi kita masih punya harapan, vaksinasi yang telah dilakukan harus membuat ekonomi fundamental di tahun mendatang lebih kokoh. Dan tentunya akan membuat harga komoditas khususnya karet bisa mendapatkan pemulihan untuk waktu yang lebih lama,” ujarnya.

Diantara petani yang mengalami kerugian dalam jangka waktu yang lama memang petani karet kita. Mereka telah kehilangan daya beli sejak karet di bawah 250 Yen per Kg. Belum lagi mengkalkulasikan inflasi yang jelas-jelas membuat daya beli petani karet kian terpuruk.

“Diawal tahun 2021 saya memang sempat meragukan ketersediaan pemulihan harga karet dalam waktu yang lama. Karena sebelumnya saya melihat kenaikan harga karet kala itu karena ekspektasi pemulihan karena kebijakan pelonggaran selama pandemi Covid-19. Akan tetapi fundamentalnya belum terlihat,” tuturnya.

Namun saat ini, tambahnya, justru sebaliknya, gelombang Covid-19 mulai terkendali. Jika tidak ada kejutan di luar perkiraan khususnya pada perekonomian global atau China maka pada dasarnya penurunan harga karet saat ini sudah semakin terbatas artinya harga karet kecil untuk turun lagi.(ng)