Sintang Kalbar Banjir, 2 Warga Meninggal dan 21.000 Rumah Terendam

Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat banjir. Ist

Fokusmedan.com : Sebanyak dua warga meninggal akibat banjir yang melanda Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat sejak dua pekan terakhir.

Pusat Pengendalian Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdalops BNPB) mencatat, selain dua warga meninggal, terdapat 24.522 kepala keluarga yang terdampak banjir.

“Satu orang yang meninggal dunia ditemukan di Kecamatan Tempunak dan satu lainnya di Kecamatan Binjai Sintang, Provinsi Kalimantan Barat,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, dikutip dari Antara, Sabtu (6/11/2021).

Disampaikan Abdul, banjir terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi sejak Kamis (21/10/2021), pukul 10.00 WIB, dengan tinggi air sekitar 300 sentimeter dari permukaan tanah.
Abdul menuturkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang masih berupaya mendata di lapangan terkait korban meninggal dunia maupun luka-luka lainnya.

Data sementara yang dihimpun oleh Pusdalops BNPB dari BPBD Kabupaten Sintang hingga Kamis (4/11/2021), jumlah warga yang terdampak sebanyak 24.522 KK (87.496 jiwa).
Selain itu, sekitar 21.000 unit rumah, sarana tempat ibadah, dan 5 unit jembatan juga terdampak banjir.

Abdul menyebutkan, hingga saat ini, terdapat 12 kecamatan masih terendam banjir di antaranya, Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Binjai Hulu, Kecamatan Sintang, Kecamatan Sepauk, Kecamatan Tempunak, Kecamatan Ketungau Hilir, Kecamatan Dedai, Kecamatan Serawai, Kecamatan Ambalau, Kecamatan Sei Tebelian dan Kecamatan Kelam Permai.

Menurut laporan BPBD setempat, kata Abdul, saat ini kondisi di jalan lintas provinsi – kabupaten juga masih tidak bisa dilewati untuk kendaraan disebabkan ruas jalan masih digenangi banjir.

Selain itu, akses listrik dan komunikasi di lapangan masih terkendala.

Pemerintah Kabupaten Sintang telah menetapkan status tanggap darurat banjir, yang berlaku pada 19 Oktober hingga 16 November 2021.

Hasil kajian dari InaRISK, Kabupaten Sintang memiliki potensi risiko banjir sedang hingga tinggi.

Kejadian banjir ini merupakan fenomena berulang apabila tidak ditindaklanjuti dengan pengelolaan risiko secara baik.

BNPB mengimbau kepada pemerintah daerah setempat untuk dapat menyiapkan program jangka pendek hingga jangka panjang, seperti pembersihan saluran air hingga tata kelola air wilayah.

Hal ini sebagai upaya pencegahan bahaya bencana hidrometeorologi basah, antara lain banjir, banjir bandang, tanah longsor atau angin kencang.

“Masyarakat juga diimbau untuk waspada terhadap aliran listrik dari kabel yang terendam air. Tak lupa juga, protokol kesehatan perlu ditingkatkan guna mencegah penyebaran Covid-19 khususnya di area tempat permukiman warga,” pesan Abdul.(ng)