AS Bakal Jual Rudal ke Arab Saudi Seharga Rp9,3 Triliun

Ilustrasi rudal. Ist

Fokusmedan.com : Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyetujui penjualan rudal canggih senilai $US650 juta atau setara Rp9,3 triliun ke Arab Saudi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS mengatakan bahwa Saudi bisa menggunakan rudal itu untuk mencegat serangan drone dari Yaman.

“Kami telah melihat peningkatan serangan lintas batas terhadap Arab Saudi selama setahun terakhir,” kata juru bicara itu, seperti dikutip AFP, Kamis (4/11/2021).

Persetujuan itu memungkinkan Saudi membeli hingga 280 rudal canggih jarak menengah AIM-120C dan peralatan lainnya untuk mengisi kembali pasokan rudal yang ada.

Penjualan itu terjadi meski Presiden AS, Joe Biden, sangat berhati-hati mengambil langkah untuk melindungi Saudi.

Ia khawatir akan taktik keras Saudi terhadap Houthi, serta dugaan pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah negara kerajaan tersebut.

Jubir Kemlu AS lantas menekankan bahwa rudal yang bakal dijual itu tak bisa digunakan terhadap target darat.

“(Penjualan rudal) sepenuhnya konsisten dengan janji pemerintah untuk memimpin dengan diplomasi guna mengakhiri konflik di Yaman sembari memastikan Arab Saudi memiliki sarana untuk mempertahankan diri dari serangan udara Houthi yang didukung Iran.”

Dalam beberapa tahun belakangan, Saudi memimpin koalisi melawan pemberontak Houthi di Yaman, yang disebut-sebut didukung Iran. Menurut para pejabat AS, Iran memasok drone dan teknologi pesawat tak berawak ke Yaman.

Arab Saudi juga kerap menuduh Iran mendukung Houthi dengan senjata dan pesawat tak berawaknya. Namun, Teheran mengklaim hanya memberikan dukungan politik kepada kelompok pemberontak itu.

Pemberontak Houthi berulang kali menargetkan Arab Saudi dalam serangan lintas perbatasan menggunakan drone atau rudal.

Di sisi lain, Oktober lalu, 134 anggota Houthi tewas akibat serangan koalisi Saudi. Rentetan serangan itu terjadi di di distrik Abdaya, Provinsi Marib, Yaman.

Marib berada di antara wilayah selatan dan utara Yaman. Daerah ini merupakan kunci untuk mengendalikan wilayah bagian utara negara tersebut.

Para pengamat mengatakan jika Marib jatuh ke tangan pemberontak, Houthi bisa terus memperluas pergerakannya ke arah selatan, wilayah yang dikuasai pemerintah.

Banyak pihak menganggap konflik di Yaman merupakan perang proksi antara Saudi yang mendukung Yaman, dan Iran yang menyokong Houthi. Iran dan Saudi merupakan musuh bebuyutan yang berebut pengaruh di Timur Tengah.

Kisruh di Yaman sendiri mulai panas pada 2014, ketika Houthi menyerbu Ibu Kota Sanaa dan mengambil alih istana kepresidenan. Saudi lantas membentuk koalisi untuk menyerang Houthi.

Sejak saat itu, puluhan ribu orang tewas dan jutaan warga mengungsi. Banyak pula warga yang melarikan diri ke Marib, sehingga wilayah ini mengalami pembengkakan populasi sejak perang dimulai.(ng)