Strategi Pengembangan Desa Wisata

Fokusmedan.com : Pengembangan Potensi desa wisata bisa menjadi salah satu andalan mengangkat taraf hidup masyarakat pedesaan. Selain jadi sektor penerimaan negara di bidang non migas, bisa juga menurunkan angka urbanisasi (baca : orang desa ke kota). Warga desa tidak lagi mencari kerja ke kota karena pembukaan Desa Wisata akan melibatkan warga setempat.

Dari 74 ribuan desa di Indonesia, menurut data dari Kementerian Desa kini tercatat 7.275 desa yang memberi label desanya sebagai desa wisata. Ada yang kategori Merintis, Berkembang, Maju dan Mandiri. Pemerintah baik Kementerian dan Lembaga kini jor-joran memberikan dan membantu desa wisata untuk melengkapi berbagai infrastktur yang dibutuhkan, dintaranya homestay, sarana dan prasarana yang dibutuhkan serta akses jalan menuju desa wisata.

Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kominfo) misalnya, memberikan fasilitas jaringan internet sehingga kondisi dan potensi desa wisata tersebut dapat di akses melalui internet. PT. (Persero) PLN membangun bak sampah.

Di era digital saat ini semakin banyak cara dan strategi mengangkat potensi wisata, apalagi setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan atau karakteristik alam, budaya, atraksi yang menarik untuk diketahui wisatawan manca negara maupun wisatawan domestik

Desa yang memiliki segudang potensi bisa diangkat menjadi sebuah komoditas setelah dipoles dengan manajemen strategi. Karena itulah desa-desa yang memiliki potensi sebagai desa wisata perlu menyusun strategi pengembangan desa wisata. Strategi pengembangan ini tidak bisa disama-ratakan setiap desa. Kemajuan setiap desa wisata tidak sama, dan sangat tergantung potensi yang dimiliki.

Untuk itu, perlu dibuat langkah-langkah strategis untuk mengembangkan potensi desa menjadi desa wisata, seperti mengidentifikasi potensi desa termasuk keunikan atau kekhasannya dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat desa.

Setelah di identifikasi melalui rembug desa, jika ada beberapa potensi yang dimiliki maka harus ditetapkan potensi unggulan sebagai komoditi. Usahakan potensi unggulan tersebut tidak dimiliki desa wisata lainnya, terutama yang berada di sekitar kecamatan maupun kabupaten yang sama.
Dengan memiliki keunikan, so pasti pengunjung akan datang mengunjungi desa wisata tersebut.

Salah satu contohnya apa yang dilakukan warga desa Denai Lama, Kecataman Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang. Dedy Sofyan sebagai penggagas terbentuknya Pasar Kawan Lama mengajak warga setempat untuk sama-sama berpartisipasi di Pasar Kawan Lama yang dibuka setiap hari Minggu pagi untuk menikmati Sarapan Pagi dengan sajian makanan tradisional yang nyaris hilang.

Agar potensi desa wisata tidak kendor, maka perlu dibangun komitmen yang kuat dari seluruh komponen desa untuk menyamakan pendapat, persepsi dan mengangkat potensi desa untuk dijadikan sebagai desa wisata. Adanya komitmen ini menjadi dukungan yang kuat keberlangsungan desa wisata

Dengan adanya komitmen yang kuat dari seluruh komponen desa, selanjutnya pengelola perlu menggandeng berbagai pihak, seperti Pemerintah Daerah, pihak swasta maupun komunitas-komunitas lainnya.

Sembari berjalan, pengelola desa wisata dapat melakukan pelatihan-pelatihan singkat kepada warga yang terlibat tentang manajemen wisata, seputar PHBS (Perilaku Hidup Sehat dan Bersih), penguasaan bahasa lokal maupun asing, dan lain sebagainya.

Untuk menghindari munculnya kejenuhan, perlu dikembangkan inovasi atau kreatifitas sehingga pengunjung tetap bergairah untuk kembali ke desa wisata. Kegagalan destinasi wisata (objek wisata) selama ini karena kurang mengimplementasikan SAPTA PESONA.

Selanjutnya, pengelola menggunakan segala media untuk memperkenalkan dan mempublikasikan potensi desa wisata, baik media konvensional maupun non konvensional, seperti internet melalui media sosial yang ada.

Perlu juga belajar dari kesuksesan desa wisata lain yang sudah masuk kategori Maju dan Berkembang melalui studi banding atau berbagi informasi.

Selain melakukan Identifikasi Potensi Desa, perlu juga dilakukan Identifikasi Masalah, Identifikasi dampak kegiatan pariwisata desa, kemudian manggandeng pemerintah daerah, pihak swasta, media, komunitas-komunitas dan melakukan Studi Banding ke Desa Wisata yang sudah Berhasil.

Desa wisata biasanya memenuhi semua unsur wisata yang memiliki potensi daya tarik. Seperti wisata alam, wisata budaya, dan wisata hasil buatan manusia dalam satu kawasan tertentu dengan didukung oleh atraksi, akomodasi, dan fasilitas lainnya. Hal ini sesuai dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Desa wisata itu, seluruhnya terintegrasi, semua unsur di dalam desa untuk mengangkat keunikan dan kearifan lokal sebagai pariwisata. (Penulis adalah Jurnalis dan Pemerhati Desa Wisata)