Indonesia Ekspor 1,2 Miliar Alat Suntik untuk Kebutuhan Unicef dan Ukraina

Oneject Indonesia ekspor alat suntik kebutuhan UNICEF dan Ukraina. Ist

Fokusmedan.com : Menteri koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, Indonesia mendapat pesanan alat suntik sekali pakai (auto disable syringe/ADS) dari lembaga PBB, Unicef dan Kementerian Kesehatan Ukraina.

Pesanan tersebut sebanyak 1,2 miliar alat suntik untuk pengadaan hingga tahun 2022 mendatang. Adapun alat suntik ini diproduksi oleh PT Oneject Indonesia.

Luhut bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun melepas ekspor sebanyak 200 kontainer atau 150 juta alat suntik atau senilai 10,5 juta dollar AS di Cikarang, Jawa Barat, pada Kamis (26/8/2021) kemarin.

Menurut Luhut, ekspor tersebut merupakan langkah yang baik di tengah upaya pemerintah untuk mengkampanyekan peningkatan penggunaan produksi dalam negeri serta mendorong ekspor produk jadi.
“From local to global. Ini adalah mimpi pemerintah, program pemerintah sebanyak mungkin yang bisa kita bikin dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (27/8/2021).

Lewat keberhasilan ekspor alat suntik ini, Luhut berharap pada masa mendatang kebutuhan impor Indonesia akan menurun. Sebab, saat ini sebagian besar alat kesehatan dalam negeri pengadaannya memang dari produk impor.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Pemerintah harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk belanja kesehatan per tahun dan sebagian besar impor, tetapi Presiden beri perintah kepada kami untuk semua buatan dalam negeri. Jadi sebanyak mungkin dalam masa pandemi ini harus buatan dalam negeri,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Luhut yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Timnas Penguatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) menekankan, pentingnya dukungan semua pihak untuk pengembangan produk lokal.

Ia bilang, dengan semakin berkembangnya produk lokal, maka tidak hanya akan merambah pasar lokal tetapi juga mencapai global.
“Sehingga ini akan mampu menghemat devisa bahkan meningkatkan ekspor yang berdampak bagi perekonomian nasional, seperti yang dilakukan OneJect Indonesia saat ini,” kata dia.

Meski demikian, jarum suntik dari alat suntik sekali pakai buatan Oneject Indonesia, masih didapat dari impor. Luhut berharap ke depannya produk alat suntik tersebut bisa menggunakan jarum suntik buatan dalam negeri, mengingat Indonesia memiliki pabrik stainless steel di Morowali.

Menurut dia, dengan suplai produk stainless steel dari pabrik di Morowali, Luhut meyakini bahwa kandungan lokal produk OneJect Indonesia bisa meningkat hingga 80 persen.

“Ini jarumnya masih kita impor padahal kita punya pabrik stainless steel terbagus di Morowali. Saya akan ngomong dengan Morowali agar bahan bakunya bisa dikasih ke Oneject,” pungkas dia.

Ketua Umum Tim Penguatan Penggunaan Produk Dalam Negeri itu pun menyatakan langkah meningkatkan produksi dalam negeri harus didukung semua pihak. Sebab selain mengurangi ketergantungan terhadap produk asing dan menghemat devisa, cara ini bisa meningkatkan kesempatan kerja.

Untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku produksi alat kesehatan, terutama produksi suntik, Luhut meminta kawasan industri Morowali menjamin suplai tersebut. “Dengan suplai produk stainless steel dari pabrik di Morowali, kandungan lokal produk OneJect bisa meningkat hingga 80 persen,” katanya.(ng)