Perang Afghanistan: Mayat-Mayat Bergelimpangan di Jalanan Lashkar Gah

Fokusmedan.com : “Taliban tidak akan mengasihani kami dan pemerintah tidak akan menghentikan pengeboman.”

Penduduk Lashkar Gah di Afghanistan selatan adalah satu dari ribuan yang terjebak atau melarikan diri saat pertempuran pecah antara militan dan pasukan pemerintah untuk perebutan kota.

BBC tidak menyebutkan nama beberapa orang yang diwawancarai dalam artikel ini karena alasan keamanan.

“Ada mayat di jalan. Kami tidak tahu apakah mereka warga sipil atau Taliban,” kata pria itu kepada layanan BBC Afghanistan dalam sebuah wawancara di Whatsapp, dikutip Rabu (4/8).

“Puluhan keluarga telah meninggalkan rumah mereka dan menetap di dekat sungai Helmand.”

Penduduk lainnya mengatakan kepada BBC, mereka melihat mayat-mayat tergeletak di jalan-jalan.

Merebut ibukota provinsi Helmand yang terkepung akan menjadi nilai simbolis yang sangat besar bagi para pemberontak saat mereka terus melakukan penyerbuan setelah penarikan pasukan asing. Helmand merupakan pusat kampanye militer AS dan Inggris.

PBB dan badan internasional lainnya memperingatkan krisis kemanusiaan yang memburuk. Pada Selasa, PBB menyampaikan sedikitnya 40 warga sipil tewas di Lashkar Gah dalam satu hari terakhir.

Tentara Afghanistan mendesak warga sipil meninggalkan Lashkar Gah menjelang serangan besar-besaran terhadap Taliban. Di wilayah lain di selatan Afghanistan, Taliban berusaha merebut Kandahar, bekas benteng mereka, dan bentrokan juga meningkat di Herat di barat.

Pertempuran berlanjut di Lashkar Gah selama berhari-hari. Saat ini militan dilaporkan menguasai sebagian besar distrik tersebut.

“Kami sedang melalui hari-hari yang sulit,” kata seorang mahasiswa di kota itu kepada BBC.

“Taliban terlihat di jalan-jalan kota. Kehadiran Taliban mengejutkan orang-orang di sini,” kata seorang pria lainnya pada Minggu.

“Toko-toko tutup, dan kendaraan militer pemerintah tergeletak hancur di tengah jalan. Perang berlanjut di beberapa meter dari kantor gubernur dan Direktorat Keamanan Nasional.”

“Pemerintah pusat mengatakan baru-baru ini mereka telah mengerahkan pasukan komando baru ke Lashkar Gah, tapi kami tidak melihat mereka.”

Ratusan pasukan bantuan Afghanistan dilaporkan telah dikerahkan ke kota itu.

Pada akhir pekan, Kepada dewan provinsi Helmand, Attaullah Afghan mengakui pertempuran tampaknya “keluar dari kendali kami”.

Taliban telah membuat kemajuan lebih lanjut minggu ini, meskipun pesawat tempur Afghanistan dan AS menargetkan para pemberontak tersebut.

Ada laporan bahwa pejuang Taliban telah mengambil posisi di dalam rumah, toko dan pasar – orang-orang terjebak di rumah mereka saat pertempuran berlangsung di jalan-jalan.

Para militan umumnya memperingatkan warga melalui pengeras suara untuk pergi tetapi kadang-kadang mereka memasuki rumah – penduduk setempat hanya memiliki beberapa menit untuk melarikan diri atau berisiko terjebak dalam baku tembak karena rumah mereka menjadi bagian dari medan perang.

“Taliban memberi tahu kami jika kami tidak meninggalkan rumah dalam waktu setengah jam, kami akan dianggap berada di antara polisi dan pasukan Afghanistan,” kata mahasiswa yang berbicara dengan layanan BBC Afghanistan.

Saat berkuasa di akhir 1990-an, Taliban secara terbuka mengeksekusi orang dan membatasi akses perempuan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan.

Taliban mengklaim telah berubah dan tidak akan lagi menggunakan kekerasan seperti itu – namun banyak orang Afghanistan skeptis.

Human Rights Watch mendokumentasikan kasus-kasus serangan balasan oleh militan terhadap warga sipil yang dianggap mendukung pemerintah.

PBB mengatakan warga sipil menanggung beban konflik dan mendesak semua pihak untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi warga sipil atau dampaknya akan menjadi bencana besar.

Ribuan orang yang lolos dari pertempuran sekarang menghadapi kekurangan makanan, air minum, dan obat-obatan.

Badan-badan bantuan tidak memiliki akses ke sebagian besar pengungsi, dan pusat kesehatan serta rumah sakit tidak memiliki kapasitas untuk menangani jumlah korban. Beberapa fasilitas kesehatan hancur, sementara ada juga fasilitas yang tidak beroperasi.

Seorang dokter di Lashkar Gah, Masood Khan, mengatakan banyak pasien luka parah dilarikan ke rumah sakitnya. Khan khawatir banyak korban lain yang tidak dapat menjangka rumah sakit. Menurutnya, persediaan obat-obatan semakin menipis.

“Kami menerima banyak korban perang. Ada pertempuran di sekitar,” jelasnya kepada BBC pada Senin.

Khan merupakan dokter spesialis perawatan intensif di rumah sakit yang dikelola badan amal kesehatan MSF.(yaya)