Waspada! Ada 22 Gejala Virus Corona Tidak Biasa Menurut WHO

Ilustrasi gejala Covid-19. Ist

Fokusmedan.com : Kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah mendekati angka 1,3 juta per Senin, 22 Februari. Masyarakat tetap harus waspada, termasuk dengan mengenali gejala virus corona.

Pada Senin (22/2), ada tambahan 10.180 kasus baru virus corona di Indonesia. Sehingga, total infeksi di negara kita menjadi 1.288.833 kasus.

Selain gejala virus corona yang paling umum seperti demam, batuk kering, dan kelelahan, melansir Kontan.co.id, Selasa (23/2/2021), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 22 gejala yang kurang umum. Sebanyak tujuh di antaranya terbilang gejala baru.

Gejala virus corona yang kurang umum dan bisa memengaruhi beberapa pasien:
• Kehilangan rasa atau bau
• Hidung tersumbat
• Konjungtivitis (juga dikenal sebagai mata merah)
• Sakit tenggorokan
• Sakit kepala
• Nyeri otot atau sendi
• Berbagai jenis ruam kulit
• Mual atau muntah
• Diare
• Menggigil atau pusing

Gejala virus corona yang parah:
• Sesak napas
• Kehilangan selera makan
• Kebingungan
• Nyeri atau tekanan yang terus-menerus di dada
• Temperatur tinggi (di atas 38°C)

Gejala lain virus corona yang kurang umum dan gejala baru:

• Sifat lekas marah
• Kebingungan
• Kesadaran berkurang (terkadang berhubungan dengan kejang)
• Kegelisahan
• Depresi
• Gangguan tidur

Komplikasi neurologis yang lebih parah dan jarang terjadi, seperti stroke, radang otak, delirium, dan kerusakan saraf

“Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul secara bertahap. Beberapa orang menjadi terinfeksi tetapi hanya memiliki gejala ringan,” sebut WHO.

Pada umumnya, gejala mulai muncul sekitar lima hingga enam hari setelah terjadi pajanan. “Tetapi, waktu kemunculan gejala ini dapat berkisar 1 hingga 14 hari,” ungkap WHO.

WHO menekankan, orang dari segala usia yang mengalami demam dan/atau batuk yang berhubungan dengan kesulitan bernapas atau sesak napas, nyeri atau tekanan dada, atau kehilangan kemampuan bicara atau bergerak, harus segera mencari perawatan medis.

“Jika memungkinkan, hubungi penyedia layanan kesehatan, hotline, atau fasilitas kesehatan terlebih dahulu, sehingga Anda dapat diarahkan ke klinik yang tepat,” kata WHO.(ng)