Kisah Alda Penyandang Disabilitas yang Tetap Semangat Menjalani Hidup

Adelia Alda penyandang disabilitas. Ist

fokusmedan : Adela Alda hanya terduduk diam sembari bersandar pada dinding rumah. Kakinya tak kuasa menapakan beban tubuh akibat kelumpuhan yang dialami sejak usia 6 bulan.

Keterbatasan ekonomi keluarga, membuatnya pasrah menerima keadaan. Sejak kepergian sang ayah, Ali Imran empat tahun lalu, hanya ibu lah yang menjadi tulang punggung Adela dan kedua adiknya saat ini.

Namun, Adelda bocah yatim yang terlahir dengan kelumpuhan jaringan otot itu tetap punya semangat tinggi.

Si sulung dari tiga bersaudara ini masih tetap memiliki keinginan melanjutkan program pendidikan.

Walau kenyataannya, warga Desa Suka Makmur, Dusun 4, Binjai ini memiliki keterbatasan untuk berjalan. Adela harus mengenakan kursi roda untuk sampai di sekolah yang tak jauh dari kediaman mereka.

Sang bunda yang juga harus mengurus kedua adiknya membuat Dela sapaan akrabnya itu tak bisa memaksakan keinginan. Dirinya pasrah jika harus melepas mimpi mengenyam pendidikan di bangku sekolahan.

Beruntung saat ini Dela bisa sekolah lewat program daring dan masih berstatus sebagai murid kelas VIII di salah satu sekolah lanjutan pertama swasta di dekat rumah. Entah bagaimana ke depannya nanti.

Dan Dela tetap mensyukuri segala nikmat yang didapat. Tak cuma bangku sekolahan, ternyata Dela juga memiliki mimpi menjadi seorang hafizah.

Dengan keringanan hati dari Ratih, seorang guru ngaji yang rela hadir di kediamannya untuk membagikan ilmu mengaji dan hafalan membuat Della makin yakin jika kelumpuhannya tak lantas membuat dirinya berhenti meraih mimpi.

Banyak ayat yang telah terekam dalam benak. Banyak juga kebaikan yang telah ditorehkan. Dela tak pernah meninggalkan kewajiban untuk bersujud dan mengadahkan tangan kepada sang Ilahi.

Juraini sang ibu pun tak patah arang untuk memperjuangkan ketiga anaknya, Adella (13) Jales Syahputra (12) dan Cahaya Hati (11).

Tak ada penghasilan dan mengharap iba tetangga yang tak pernah lelah berbagi, Juraini menyerahkan sepenuh nasibnya kepada Allah SWT.

Janda dengan tiga anak dan satu di antaranya harus dirawat khusus akibat kelumpuhan menambah daftar pilu hidupnya. Jangankan makan, untuk pampers pun, Juraini terkadang harus meminta ke sejumlah tetangga.

“Kalau beras kami dapat bantuan dari program PKH. Tapi untuk hal lain seperti pampers Dela, berharap dari kebaikan tetangga yang masih peduli sama kami. Untuk berobatnya Della kalau ada uang beli obat kalau gak ya ditahan dulu, apalagi lubang di bagian belakang bokongnya belum kering, masih butuh perawatan,” ujar Juraini.

Ya semua harus dijalani. Tak peduli umpatan apalagi hinaan. Bagi Juraini bisa menatap mentari pagi dan menjalani hari sembari mengurusi Dela sudah begitu istimewa.

Selasa (5/1/2020) siang kemarin, doa dan ketabahan Juraini seakan terjawab. Sedikit senyum pun tersirat dari wajahnya. Hal itu tampak saat Rumah Yatim hadir ke kediaman mereka. Lewat program bantuan yang digalang dari para donatur, Rumah Yatim hadir dengan membawa sejumlah harapan.

Sembako, buah, vitamin, madu dan sejumlah uang diharapkan bisa menjadi pelipur lara walau sejenak. Bagaimana nasib Dela dan ibunya ke depan nanti, menjadi skenario sang Khalik yang diharap berujung indah.

(Rio)