BBKSDA Sumut Lepasliarkan Orangutan

Orangutan dilepasliarkan ke alam. Ist

fokusmedan : Seekor Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) dilepas liarkan oleh Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara dan Tim HOCRU OIC.

Kabid Teknis BBKSDA Sumut, Irzal Azhar mengatakan bahwa orangutan itu ditemukan di areal pemukiman warga di Dusun Padang Bulan, Desa Marsada, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan.

“Jadi, kami mendapatkan laporan dari masyarakat ada orangutan di Dusun Padang Bulan, yang sudah di dusun tersebut selama 4 hari. Kami bekerjasama dengan Orangutan Information Centre (OIC) kemudian evakuasi orangutan tersebut. Karena jauh dari hutan maka dievakuasi dengan membiusnya pada Senin (23/11) kemarin,” katanya, Selasa (24/11).

Irzal menjelaskan, sebelum dievakuasi, orangutan yang diperkirakan berusia 35 tahun tersebut dipantau. Orangutan jantan seberat 63 kg itu setelah dicek kesehatannya oleh drh. Epi dari OIC, kondisinya sehat dan layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

“Sebenarnya sih banyak ya orangutan yang keluar dari habitatnya tapi memang kita berhasil evakuasi ke dalam habitatnya. CA Dolok Sipirok itu memang habitatnya,” jelasnya.

Irzal mengungkapkan, yang menyebabkan orangutan keluar dari hutan kemudian masuk ke areal pemukiman karena warga banyak menanam durian dan petai yang memiliki aroma yang khas. Datangnya orangutan ke areal pemukiman kemudian memakan buah-buahan yang dibudidayakan masyarakat, tentunya merugikan dan meresahkan.

“Dari situ kemudian masyarakat melaporkannya ke BBKSDA Sumut. Karena mereka (orangutan) suka durian dan petai, dan banyak penduduk di sana punya kebun durian, petai, mungkin karena baunya akhirnya tercium sehingga trurun ke sana,” ungkapnya.

Atas hal tersebut, Irzal menuturkan memang tidak ada penggantian kerugian. Namun demikian pihaknya sudah membagikan bibit tanaman dan pupuk kepada masyarakat sebagai kompensasi.

“Sebenarnya tidak ada penggantian karena petani sudah merasakan bahwa mereka bisa hidup berdampingan dengan orangutan. Karena tidak mengganggu. Ada semacam kerugian, tapi kami juga membantu petani tersebut dengan pupuk, bibit tanaman, sebagai kompensasi saja,” tuturnya.

Menurut Irzal, Oranguatan Tapanuli termasuk satwa liar dilindungi sesuai peraturan Permerintah No. 7 Tahun 1999 dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan
dan Satwa Yang Dilindungi, sedangkan menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (Critically endangered).

“Orangutan Tapanuli merupakan spesies kera besar yang hanya ditemukan di hutan Tapanuli yang termasuk dalam wilayah tiga kabupaten (Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara). Sebagian besar populasi Orangutan Tapanuli tersebar di
Blok Batang Toru Barat dan Batang Toru Timur, serta terdapat beberapa populasi kecil yang ditemukan di Cagar Alam Dolok Sipirok, Suaka Alam Lubuk Raya dan Cagar Alam Dolok Sibual-buali (Utami-Atmoko dkk, 2017),” ujarnya.

Menurut KLHK (2019) Populasi Orangutan Tapanuli di wilayah Batang Toru Barat saat ini berjumlah 400-600 individu (termasuk SA. Lubuk Raya dan CA. Dolok Sibual-buali yang terpisah dari wilayah Blok Barat, diperkirakan populasinya kurang dari 50
individu), sedangkan Batang Toru Timur berjumlah sekitar 150-160 individu. Lebih lanjut bahwa populasi Orangutan Tapanuli di Batang Toru adalah 577-760 individu.

Setelah pengecekan kesehatan, OU segera dilepasliarkan ke CA Dolok Sipirok. Kegiatan pelepasliaran berlangsung dengan lancar dan OU kembali ke habitatnya di Cagar Alam Dolok Sipirok.

“Diharapkan OU tersebut segera beradaptasi dengan habitatnya. Pasca pelepasliaran, OU selalu dalam monitoring tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk memastikan OU tetap berada di habitatnya,” pungkasnya.

(raf)