Benarkah Hobi Makan Pedas Picu Risiko GERD?

fokusmedan : Penyakit asam lambung alias
gastroesophageal reflux disease (GERD) sering dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan pedas. Penyakit yang satu ini disebut rentan menyerang orang yang memiliki kebiasaan konsumsi makanan yang memiliki cita rasa pedas.

Namun, benarkah hal itu? Selain makanan pedas, apa saja penyebab naiknya asam lambung atau GERD?

GERD ditandai dengan munculnya sensasi terbakar di dada atau heartburn. Hal ini terjadi karena asam lambung naik ke kerongkongan. Penyakit ini bisa terjadi pada siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak.

Selain itu, mengutip halodoc, Rabu (18/11/2020), GERD adalah kondisi yang tidak boleh disepelekan begitu sama karena bisa memicu terjadinya komplikasi. Biar lebih jelas, simak ulasan seputar GERD di artikel berikut

Makanan Pedas dan Penyebab Lain GERD

Makanan pedas sering disebut sebagai penyebab naiknya asam lambung atau GERD. Sebenarnya, hal ini tidak sepenuhnya salah. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang pedas, apalagi secara berlebihan, nyatannya memang bisa memicu terjadinya gangguan pencernaan. Ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa makanan pedas bisa menyebabkan nyeri perut dan sensasi terbakar di dada.

Kabar buruknya, kondisi ini bisa menjadi semakin buruk pada orang yang memiliki riwayat gangguan pencernaan fungsional. Meski begitu, makanan pedas nyatanya bukan penyebab utama GERD. Namun, risiko terjadinya penyakit ini menjadi lebih tinggi jika seseorang terlalu sering mengonsumsi makanan pedas.

Kandungan capsaisin dalam makanan pedas diduga menjadi penyebabnya. Capsaicin adalah bahan yang terdapat di dalam cabai atau bubuk cabai. Bahan inilah yang membuat cabai memiliki rasa pedas.

Nah, paparan capsaicin yang terlalu sering disebut bisa mengganggu sistem pencernaan dan meningkatkan risiko GERD. Namun, hasilnya akan berbeda jika asupan makanan ini dibatasi.

Meski menyukai rasa pedas, ada baiknya untuk tidak berlebihan dalam mengonsumsi jenis makanan yang satu ini. Perhatikan jenis makanan yang dikonsumsi dan pertimbangkan toleransi tubuh dalam menghadapi makanan pedas.

Selain makanan pedas, risiko GERD juga meningkat jika terlalu sering mengonsumsi makanan asam, berminyak, serta goreng-gorengan.

Makanan yang dikonsumsi memang bisa meningkatkan risiko GERD, tapi penyebab pasti dari kondisi ini adalah melemahnya otot bagian bawah kerongkongan alias lower esophageal sphincter (LES).

Otot ini memiliki bentuk seperti cincin dan bekerja dengan cara menutup dan membuka saluran kerongkongan. Gangguan pada sistem ini yang menjadi penyebab asam lambung naik kembali ke kerongkongan.

Normalnya, LES akan mengendur pada saat makan. Dengan begitu, makanan bisa masuk dari kerongkongan ke dalam lambung. Setelah itu, LES akan kembali menegang dan menutup.

Biasanya proses ini terjadi saat makanan sudah turun ke lambung. Pengidap GERD mengalami gangguan pada proses itu. Otot LES yang melemah tidak bisa menutup dan berakhir pada naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko melemahnya LES, mulai dari obesitas, tengah hamil, serta berusia lanjut. Kondisi ini juga bisa terjadi karena melemahnya otot dinding lambung (gastroparesis), penyakit pada jaringan ikat (scleroderma), serta hernia hiatus.(ng)