Ekonomi China Diramal Tumbuh Melesat di 5,2%

Ilustrasi bendera Tiongkok. AFP

fokusmedan : China adalah negara pertama yang merasakan pukulan pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Maklum, virus mematikan itu memang awalnya mewabah di Kota Wuhan, Provinsi Hubei.

China juga menjadi negara pertama yang memberlakukan kebijakan karantina wilayah alias lockdown. Awalnya diterapkan di ground zero Kota Wuhan, yang kemudian meluas ke berbagai daerah.

Berkat langkah cepat dan tegas tersebut, China menuai hasil positif. Saat berbagai negara berjibaku melawan serangan virus corona, bahkan sekarang disebut-sebut sudah memasuki gelombang kedua (second wave outbreak), China relatif tenang. Jumlah pasien positif corona di Negeri Tirai Bambu masih stabil di kisaran 80.000.

Lockdown di China paling ketat terjadi pada kuartal I-2020. Kala itu, aktivitas masyarakat benar-benar dibatasi. Warga tidak boleh keluar rumah, kecuali untuk urusan mendesak.

Melansir CNBC, Minggu (18/10/2020), mobilitas warga yang hampir tidak ada membuat ekonomi China jatuh. Pada Januari-Maret 2020, ekonomi China tumbuh negatif (kontraksi) 6,8%. Ini adalah pencapaian terburuk sejak China mulai melaporkan data pertumbuhan ekonomi pada 1992.

Namun, kontraksi ekonomi akibat pandemi virus corona hanya berlangsung satu kuartal. Pada kuartal II-2020, saat ‘keran’ aktivitas warga mulai dibuka kembali (reopening), ekonomi China langsung tumbuh 3,2%. Padahal saat itu banyak negara membukukan kontraksi Produk Domestik Bruto (PDB), termasuk Indonesia.

Saat PDB negatif selama dua kuartal beruntun, itu namanya resesi. Banyak negara sudah jatuh ke lembah resesi, dan Indonesia pun sepertinya demikian meski belum resmi karena data perubahan PDB kuartal III-2020 baru diumumkan pada 5 November mendatang.

Ketika negara banyak meratap dan berjuang keras untuk segera keluar dari resesi, tidak demikian dengan China. Kontraksi ekonomi sejauh ini cuma berlangsung pada kuartal I-2020, setelah itu tidak ada kelanjutan. Bahkan yang ada ekonomi China semakin melesat.

Setelah tumbuh 3,2% pada kuartal II-2020, konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan PDB Negeri Panda naik 5,2%. Artinya, ekonomi China sudah sangat dekat dengan level sebelum pandemi.

Berbagai data ekonomi memang menunjukkan bahwa China sudah bangkit. Pertama, penjualan mobil terus mencatatkan pertumbuhan positif dalam enam bulan terakhir. Padahal di negara-negara lain, penjualan mobil masih anjlok.

Sebagai gambaran, rata-rata pertumbuhan penjualan mobil di China sepanjang kuartal III-2020 adalah 13,8% per bulan.

Kedua adalah ekspor. Pada September 2020, nilai ekspor China mencapai US$ 239,8 miliar yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Angka itu mencerminkan kenaikan 9,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).

Sepanjang kuartal III-2020, ekspor China tumbuh rata-rata 8,86% per bulan. Dalam periode yang sama, Indonesia membukukan kontraksi ekspor rerata 6,73% per bulan.(ng)