Permintaan Daging Naik, Sumut Harus Waspadai Kenaikan Harga Pangan Jelang Akhir Tahun

fokusmedan : Tren konsumsi daging masyarakat di Sumatera Utara (Sumut) mengalami peningkatan. Permintaan daging anjlok setelah banyak masyarakat yang mengurangi konsumsi daging seiring dengan budaya untuk tidak mengadakan pesta guna menghormati bulan Muharram.

Dari hasil pantauan di beberapa rumah potong hewan, terjadi peningkatan permintaan daging sapi yang mengalami lonjakan sekitar 20%. Bahkan salah satu RPH terbesar di Tanjung Morawa menyatakan tren permintaan daging sapi meningkat hingga hampir 3 kali lipat jika dibandingkan dengan realisasi terendah permintaan daging sapi selama Muharam.

Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, pada dasarnya realisasi permintaan daging sapi yang meningkat saat ini masih lebih kecil 50% dibandingkan dengan permintaan daging sapi saat kondisi normal sebelum masa pandemi. Artinya, belum sepenuhnya geliat ekonomi masyarakat pulih, masih bermasalah meskipun saat ini tetap mampu bertahan.

Di sisi lain, harga daging sapi nantinya tidak akan naik bahkan bertahan di level Rp110 hingga Rp120 ribu per Kg nya.

“Namun, pemerintah harus mewaspadai kenaikan konsumsi daging sapi tersebut. Jangan sampai mengerek kenaikan harga komoditas lainnya,” katanya, Kamis (24/9/2020).

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), tren harga di akhir tahun itu cenderung naik atau bertahan mahal. Saat ini, harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat masih bergerak stabil dan sudah berada di posisi yang ideal.

“Cuaca dan tren konsumsi yang naik bisa saja merubah pergerakan harga kedepan nantinya,” ujarnya.

Ia menyarankan, lakukan mitigasi risiko, kemungkinan adanya kenaikan harga saat gangguan cuaca tersebut. Memang di luar wilayah Sumut, khususnya Jawa Tengah memasuki musim panen raya.

Namun, Sumut harus bersiap untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya masalah harga karena gangguan cuaca. Skala prioritas ke depan adalah menjaga harga cabai dan bawang.

“Saya masih yakin harga kebutuhan pokok akan stabil. Namun sekecil apapun kenaikan harga pangan di tengah resesi akan memberikan masalah besar bagi masyarakat. Karena daya beli yang tertekan justru dihadapkan dengan laju inflasi yang membuat kita semua masuk dalam resesi berkepanjangan atau disebut dengan depresi,” tandasnya.(ng)