Tak Bisa Usung Calon, PKS Merasa Terbajak di Pilkada Solo

fokusmedan : Partai Keadilan Sosial (PKS) dipastikan tak mempunyai calon sendiri di Pilkada serentak Kota Solo, 9 Desember 2020. KPU setempat memastikan, dua pasangan telah mendaftar, yakni Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa yang didukung mayoritas partai dan bakal calon independen Bagyo Wahyono-FX Soepardjo.

Ketua DPD PKS Solo, Abdul Ghofar Ismail menilai telah terjadi fenomena demokrasi Kota Solo yang terbajak. Artinya, lanjut dia, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa, ketika mau membangun koalisi untuk menghadirkan calon alternatif di Pilkada Solo. Bahkan setiap calon yang mendaftar lewat PKS, diminta untuk lansung berkomunikasi dengan DPP. Padahal mekanisme yang biasa dilakukan selama ini selalu dari bawah.

“Sehingga seakan akan kita, sudah tidak diberi perlu lagi untuk berkomunikasi dengan teman-teman partai politik di Solo. Semuanya sudah di Jakarta. Hingga dalam suasana kebatinan kami, kami merasa terbajak,” ujar Ghofar, saat ditemui di kantor DPD PKS Solo, Senin (7/9).

Ghofar mengaku suasana Pilkada di kota Solo saat ini berbeda jauh dengan sebelumnya. Di mana di daerah partainya bisa bebas berkomunikasi dengan partai lain. Kemudian hasilnya disampaikan ke DPW dan DPP partai masing-masing. Setelah itu ada diskusi dan muncul rekomendasi dari masing-masing partai.

“Suasana itu tidak kita dapatkan pada Pilkada saat ini. Ini pelajaran besar bagi kami. Kalau ingin mengusung calon, PKS ya harus kuat, harus dapat 9 kursi,” tandasnya.

Ghafur tidak menyalahkan siapa-siapa. Baginya, salah ada pada PKS yang hanya mendapatkan 5 kursi di DPRD. Jumlah tersebut tidak memenuhi syarat minimal 9 kursi untuk bisa mengusung bakal calon wali kota maupun wakil wali kota sendiri.

Terkait isu golput, Ghofar tidak membenarkannya. Sikap abstain hanya dilakukan partai untuk pendaftaran bakal calon wali kota maupun wakil wali kota. Hingga saat ini partainya juga belum memiliki pilihan dukungan. Untuk sikap pemilihan pada 9 Desember nanti, pihaknya masih akan membahas dan mendengarkan aspirasi dari para kader dalam rapat.

“Abstainnya ya di pendaftaran. Tapi nanti pilihan pada 9 Desember, kita belum tahu. Kita akan menggali banyak, karena memang kalau sampai absen di pemilihan, itu juga beban berat bagi kami. Kalau nanti konstituen banyak yang mengusulkan kita tetap absen ya kita kan abstain dalam pemilihan. Sikap kita seperti apa akan kita sampaikan awal November nanti,” pungkas dia.(yaya)