Kuartal Kedua Ekonomi India -23,9%, Alarm Bahaya Buat Sumut

Ilustrasi CPO menjadi salah satu produk ekspor ke India.Ist

 

fokusmedan : Dalam rilis pertumbuhan eknomi kuartal kedua India kemarin melaporkan, pertumbuhan ekonomi India terpuruk sangat signifikan. Padahal negara ini sebelumnya disebut-sebut sebagai negara dengan motor pertumbuhan ekonomi tinggi bahkan mampu disandingkan akselerasi pertumbuhannya dengan China.

Namun, Covid-19 terpaksa membuat negeri Bollywood tersebut memberlakukan lockdown sebelumnya. Dan alhasil, negeri itu mengalami kontraksi 23,9% secara Year on Year (YoY). Dengan kontraksi sebesar itu, Indonesia atau Sumatera Utara khususnya harus berhati-hati dengan keterpurukan ekonomi India terbut.

“Khusus untuk Sumut, India ini menjadi mitra dagang strategis,” kata Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin, Selasa (1/9/2020).

Baca Juga : IHSG Menguat 0,9%, Rupiah Melemah 14.605 per US Dolar

Di tahun 2019, India menduduki tempat ketiga negara tujuan ekspor Sumut. Peringkat pertama dan kedua diduduki oleh China dan Amerika Serikat. Namun, Sumut mencatatkan transaksi minus berdagang dengan China, karena impor Sumut ke China lebih besar dibandingkan ekspor Sumut ke China.

Sementara ke AS, Sumut memang membukukan surplus, karena ekspor Sumut ke AS masih lebih besar dibandingkan impor Sumut ke AS.

“Namun untuk India, Sumut mendapatkan surplus dan sekaligus India menjadi salah satu negara tujuan ekspor CPO Sumut terbesar,” ujarnya.

Jadi jika tren konsumsi CPO India belakangan kerap mengalami kenaikan, katanya, sudah saatnya harus berhati-hati dengan kontraksi ekonomi di India tersebut.

Sejauh ini berdasarkan setteleman harga di akhir bulan agustus, CPO masih ditransaksikan diatas 2.700 ringgit Malaysia per ton. Masih cukup bagus dan bisa mengkompensasi penurunan ekpor CPO yang turun secara kuantitas, namun diperkirakan tetap akan naik secara nominal.

Mengingat Sumut ekonominya sangat bergantung dari sawit maka sudah semestinya mewaspadai kemungkinan buruk yang timbul dari dampak terpukulnya ekonomi di India tersebut. 10 mitra dagang Sumut sejauh ini berpeluang masuk ke dalam jurang resesi hanya China yang sejauh ini mampu keluar dari resesi.

Sejauh ini, hasil perhitungan pertumbuhan ekonomi Sumut di kuartal ketiga nantinya akan bergerak minus 0.2% hingga minus 0.8% jika ekonomi negara tujuan ekspor Sumut kian memburuk. Bukan tidak mungkin nantinya pertumbuhan ekonomi Sumut bisa terpuruk di atas 1%.

“Besar kemungkinan saya juga akan merevisi target pertumbuhan ekonomi tersebut. Kita tunggu 1 bulan lagi untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas nantinya,” tandasnya.(ng)