Merdeka Belajar di Masa Pandemi dengan Radio Frekuensi

fokusmedan : Empat siswa tergabung dalam satu kelompok belajar meletakkan alat komunikasi Handy Talky (HT) di atas meja. Para siswa menyimak dengan seksama bait-bait puisi dibacakan guru dari alat komunikasi berbasis radio frekuensi itu. Mereka lalu menyalin ke buku tulis sebagai bagian dari pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Sekelompok siswa itu, pelajar dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pakis di Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Sejak 3 pekan lalu mereka melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) memanfaatkan radio frekuensi. HT digunakan untuk PJJ karena lokasi desa Gunung Lurah di kaki Gunung Slamet ini tak didukung oleh jaringan internet.

Kepala Sekolah sekaligus pengasuh MTs Pakis, Isrodin bercerita pemanfaatan HT sebagai media PJJ merupakan inisiasi dari komunitas Pers dan Mitra Kerja di Kabupaten Banyumas bekerjasama dengan Orari. Fasilitas radio HT diberikan untuk mendukung PJJ di masa pandemi Covid-19. Awalnya Orari Banyumas meminjami 6 unit HT.

Sebelumnya, Isrodin dan 20 murid Mts Pakis kelas 7 sampai 9 berbagi perangkat gawai dengan sistem kelompok belajar dengan mencari-cari lokasi yang didukung sinyal internet. Bahkan mereka sampai melintasi hutan pinus dan mendaki bukit di timur Telaga Kumpe demi menjalani pembelajaran.

“Para pengajar Mts Pakis adalah para relawan dosen dan mahasiswa di Purwokerto. Saat pembelajaran jarak jauh, kami sering terkendala karena tak ada sinyal internet. Kami mesti mencari-cari lokasi yang ada sinyal internet. Itu pun komunikasi seringkali putus,” kata Isrodin pada merdeka.com di Mts Pakis.

Dengan fasilitasi HT, komunikasi dua arah antara guru dan murid saat menjalani PJJ dikatakan Isrodin jauh lebih lancar. Karena keterbatasan jumlah HT yang hanya berjumlah 12 unit, para siswa dibagi 5 kelompok untuk memaksimalkan pembimbingan belajar. Masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang. Mereka melakukan PJJ di lingkungan mereka tinggal saban Senin sampai Kamis pukul 10.00 sampai 11.00 WIB.

“Harapan saya, satu anak bisa memegang satu HT. Jadi mereka tinggal mengikuti pelajaran dari rumah. Jadi tidak perlu ke sekolahan. Untuk saat ini karena keterbatasan HT, kita atur jadwal pembelajaran. Senin sampai Kamis belajar dari rumah masing-masing. Sedang Jumat belajar kelompok di sekolahan,” kata Isrodin.

Relawan Guru MTs Pakis, Nisa Roiyasa, bercerita keterlibatannya di MTs pakis berawal dari penelitian mengajar bahasa inggris berbasis kearifan lokal. Nisa sendiri adalah dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Saat pandemi Covid 19, Nisa terhambat untuk mengajar bahasa inggris pada para siswa MTs Pakis karena larangan pembelajaran tatap muka.

“Pembelajaran sempat terhenti memang karena pandemi,” kata Nisa, Minggu (30/8).

Pembelajaran lantas dimulai lagi ketika Mts Pakis mendapat pinjaman HT dari Orari Banyumas. Nisa bersama 6 mahasiswanya lantas rutin mengajar bahasa Inggris saban hari Jumat. Mereka fokus mengajarkan pengembangan bahasa dengan menggunakan dua bahasa yakni Indonesia dan Inggris dengan cara mengajak siswa mengapresiasi lingkungan alam dan budaya di sekitar mereka sembari mengenal budaya lain.

“Kami mengenalkan lintas budaya pada siswa. Sejauh ini dengan memanfaatkan radio frekuensi, pembelajaran jarak jauh berjalan lancar,” ujar Nissa.

Pemanfaatan repeater amatir radio pada frekuensi uhf untuk komunikasi dua arah antara guru-guru dan murid di Mts Pakis, dilakukan dengan maksimum durasi push to talk. Hal ini sesuai prosedur operating radio, yaitu 120 detik agar bisa bergantian.

Ketua Orari Daerah Jawa Tengah, JB Praharto saat mengunjungi Mts Pakis mengatakan dalam PJJ frekuensi radio ini Orari membimbing, mengawasi dan mendampingi masalah teknis dan prosedur operating para guru-guru Mts pakis dalam menggunakan perangkat radio HT pada frekuensi uhf. Sejauh ini, pengamatan dari Orari peralatan telah dimaksimalkan untuk perangkat belajar baik oleh guru maupun murid.

“Saya melihat ini bagian dari edukasi dua pihak. Memang semestinya pengguna amatir radio berizin, tapi ini situasi khusus karena pandemi yang membatasi pembelajaran tatap muka. Bagi kami ini, ini bagian dari gerakan solidaritas dan kepedulian untuk pendidikan,” kata Praharto, Minggu (30/8).

Lewat fasilitasi alat komunikasi berbasis radio frekuensi, para siswa MTs Pakis setidaknya lebih merdeka menjalani proses belajar di masa pandemi covid-19. Pembelajaran tersebut yang berjalan dengan budaya gotong royong atau keikutsertaan berbagai pihak mulai dari Orari, pers, juga akademisi jadi bukti solidaritas sosial. Pentingnya mensinergikan sikap saling peduli untuk meringankan beban satu sama lain di situasi sulit demi kelancaran pendidikan anak-anak generasi penerus bangsa.(yaya)