AS Tuding China Berada di Balik Peretasan Laboratorium Vaksin Covid-19

fokusmedan : Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) menuding China mensponsori peretas yang menargetkan laboratorium yang mengembangkan vaksin Covid-19.

Pihak berwenang menuntut dua pria China yang diduga memata-matai perusahaan AS yang melakukan penelitian virus corona dan mendapat bantuan dari agen-agen China untuk pencurian lain.

Dakwaan itu muncul di tengah tindakan keras AS terhadap spionase dunia maya China.

Inggris, AS, dan Kanada pekan lalu menuduh Rusia berupaya mencuri data penelitian terkait Covid-19.

Dilansir BBC, Kamis 23/7), dakwaan terhadap mantan mahasiswa teknik elektro Li Xiaoyu dan Dong Jiazhi dirilis pada Selasa termasuk tuduhan pencurian rahasia dagang dan konspirasi penipuan kawat.

Jaksa penuntut mengatakan kedua orang itu memata-matai sebuah perusahaan bioteknologi Massachusetts pada Januari yang diketahui sedang meneliti pengobatan untuk Covid-19. Mereka juga meretas sebuah perusahaan di Maryland kurang dari seminggu setelah perusahaan itu mengatakan sedang meneliti Covid-19.

Para pejabat menyebut para pria itu peretas pribadi yang sesekali menerima dukungan dari agen-agen intelijen China, termasuk seorang perwira dari Kementerian Keamanan Negara China (MSS).

Dalam dakwaannya, JPU menyebut dua pria ini sebelumnya mencuri “ratusan juta dolar rahasia dagang, kekayaan intelektual, dan informasi bisnis berharga lainnya” mulai tahun 2009.

Surat dakwaan juga menyebutkan kedua pria itu – yang bertempat tinggal di China – baru-baru ini “meneliti kerentanan dalam jaringan bioteknologi dan perusahaan lain yang diketahui secara publik bekerja untuk vaksin Covid-19, perawatan, dan teknologi pengujian”.

Negara-negara di mana perusahaan menjadi sasaran di antaranya Australia, Belgia, Jerman, Jepang, Lithuania, Belanda, Spanyol, Swedia dan Inggris.

Menurut dakwaan, para peretas dapat menyusup ke perusahaan intelijen buatan Inggris, kontraktor pertahanan Spanyol, dan perusahaan energi matahari Australia.

Benarkah Peretas Didukung China?

Para jaksa penuntut mengatakan kedua pria itu kadang-kadang bertindak demi kepentingan mereka sendiri – termasuk pada satu kesempatan saat mereka menuntut uang tebusan dari sebuah perusahaan sebagai imbalan karena tidak memberikan informasi pribadinya – tetapi pada saat lain mencuri informasi yang nampak menarik bagi pemerintah China.

Menurut dakwaan, para peretas “bekerja dengan, dibantu oleh, dan dioperasikan dengan persetujuan” MSS.

Mereka diduga mencuri data militer dan memberikan kata sandi kepada seorang aktivis demokrasi di Hong Kong dan mantan demonstran Lapangan Tiananmen.

“China sekarang telah mengambil tempat, di samping Rusia, Iran dan Korea Utara, di klub negara-negara memalukan yang menyediakan tempat yang aman bagi para penjahat dunia maya dengan imbalan para penjahat yang ‘dipanggil’ untuk bekerja demi keuntungan negara, di sini untuk memberi makan rasa lapar yang tak terpuaskan dari Partai Komunis China terhadap kekayaan intelektual perusahaan Amerika dan non-China lainnya, termasuk penelitian Covid-19, “kata John Demers, asisten jaksa agung untuk keamanan nasional pada Selasa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying membantah tudingan negaranya melakukan serangan siber untuk mencuri penelitian Covid-19 di AS. Chunying menyebut tuduhan itu “tidak masuk akal”.(yaya)