Ketua KPK: Korupsi Termasuk Kejahatan Kemanusiaan

fokusmedan : Masyarakat dunia kembali memperingati Hari Keadilan Internasional (World Day for International Justice) hari ini, Jumat (17/7). Pada momentum ini, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri mengingatkan, korupsi termasuk kejahatan kemanusiaan.

“Saya memandang korupsi termasuk kejahatan kemanusiaan, sangat jelas, bukan hanya merugikan keuangan negara. Ibarat kanker, korupsi juga sangat destruktif pada setiap aspek kehidupan umat manusia,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/7).

Menurutnya, korupsi sangat cepat berurat akar ke dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di dunia. Korupsi terbukti mampu beradaptasi, berevolusi hingga berinovasi dalam setiap situasi dan kondisi.

Sehingga kejahatan ini dapat dilakukan secara sistematik, terstruktur dengan dampak sistemik.

“Sudah cukup banyak bukti, korupsi menghancurkan setiap tatanan kehidupan suatu bangsa, membawa ketidakadilan, ketimpangan kemiskinan¬†serta keterbelakangan rakyat dalam sebuah negara,” jelasnya.

Korupsi juga dinilai menjauhkan bangsa di dunia dari kata kemakmuran. Bahkan, korupsi dapat menyebabkan gagalnya suatu negara mewujudkan tujuannya.

KPK sendiri telah menjalankan beberapa strategi untuk mencegah sekaligus memberangus seluruh akar korupsi yang mencoba masuk atau terlanjur menjalar pada setiap sendi serta tatanan kehidupan bangsa dan negara Indonesia.

“Perlu pergeseran ‘paradigma’ untuk melihat lebih dalam bahwasanya selain dipandang sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime), tetapi juga sangat jelas di depan mata, korupsi adalah kejahatan kemanusiaan (crimes against humanity),” sambung Firli.

Dia menambahkan, Hari Keadilan Internasional jangan hanya menjadi seremoni tahunan semata. Esensi dan makna World Day for International Justice harus menjadi momentum bagi masyarakat dunia termasuk Indonesia untuk berperilaku adil. Adil dimulai dari diri sendiri, keluarga, teman, sahabat, dan adil kepada orang lain.

Hari Keadilan Internasional ditetapkan pada 22 tahun lalu, tepatnya 17 Juli 1998. Penetapan ini berangkat dari negara-negara di dunia sepakat menandatangani Statuta Roma, salah satu traktat yang sangat penting dalam sejarah peradaban manusia guna mencari keadilan bagi kejahatan kemanusiaan, genosida, kejahatan perang dan kejahatan agresi.(yaya)