Tak Sepakat Soal Kamar Penginapan, Tenaga Kesehatan di Sumut Berhenti

fokusmedan : Kabar tidak sedap datang RS rujukan Covid-19 di Sumut, RS GL Tobing, Tanjung Morawa, Deli Serdang. Para tenaga kesehatan yang bertugas di sana berhenti setelah tidak sepakat soal kamar penginapan.

Kabar ini awalnya dibagikan di media sosial. Disebutkan para perawat yang diinapkan di Hotel Travel Hub Kualanamu, diminta keluar, Sabtu (2/5) siang. Mereka juga belum menerima gaji selama bertugas sebulan terakhir.

Kepala Dinas Kesehatan Sumut Alwi Mujahit Hasibuan membenarkan para tenaga kesehatan memang harus keluar dari hotel itu. Kondisi itu tidak terlepas dari anggaran yang terbatas.

Dia mengatakan, pihaknya dan tenaga kesehatan tidak menemui kata sepakat. Awalnya mereka memang disebutkan akan menempati satu kamar per orang. Namun, Dinas Kesehatan merevisinya karena keterbatasan anggaran. Instansi ini meminta agar satu kamar ditempati dua orang.

“Karena budget sudah over, itu yang jadi persoalan. Halus sekali pun saya memintanya. Saya minta mereka dua orang satu kamar. Mereka memaksa satu kamar satu orang. Dengan alasan saat perjanjian awal satu kamar satu orang, betul disampaikan saat awal satu kamar satu orang. Ternyata budgetnya begitu tinggi, tidak mampu kita,” ucap Alwi.

Hampir Rp 2 miliar dihabiskan untuk biaya di hotel itu dalam satu bulan. Pada dua pekan pertama habis Rp 400-an juta, dua minggu terakhir Rp 500-an juta. “Hampir satu miliar untuk hotel saja, di luar transportasi dan gaji,” beber Alwi.

“Anggaran kurang, kita tidak tahu berapa lama pandemi Corona. Artinya kalau mereka mau dua kamar satu orang, selesai masalahnya. Saya kan bisa menghemat separuh itu. Mereka tidak mau, artinya kita tidak sanggup, mereka tidak mau bantu kita lagi, silakanlah memilih. Memilihlah orang itu semua, dituliskan nama mereka satu per satu, berarti silakan mereka keluar,” sebut Alwi.

Namun, dia membantah pihaknya mem-PHK tenaga kesehatan di RS GL Tobing. “Kalau mereka bilang di-PHK, enggak ada cerita PHK di sini, orang itu melakukan pembohongan publik. Kita paham (pejuangan mereka) kita tidur-tidur di posko juga bukan mudah. Enggak ada niat yang enggak-enggak. Kecuali saya berikan tempat yang enggak layak, ini layak, mereka katanya berjuang, bukan pejuang begitu namanya,” paparnya.

Alwi mengakui para tenaga kesehatan itu belum digaji. Namun semua akan dibayarkan. “Senin akan kita selesaikan itu, enggak mau kita menzolimi orang,” tegasnya.

Mengenai operasional RS GL Tobing setelah para tenaga kesehatan itu memilih berhenti, Alwi mengatakan, mereka memindahkan semua pasien ke RS Martha Friska, Medan. “Makanya kita pindahkan pasien ke RS Martha Friska, kan rumah sakit kita juga. (Pasien) ipindahkan tadi. RS GL Tobing tidak ditutup, kita rekrut lagi orang yang berkomitmen,” ucap Alwi.(yaya)