Ketahui Penularan Asimptomatik, Infeksi Virus Corona Tanpa Gejala

fokusmedan : Ketika dunia terus berjuang melawan virus corona yang dikenal sebagai SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, jumlah kasus terus meningkat, dengan cepat mengisi peta penyebaran virus online dengan lapisan merah yang meresahkan.

Tetapi yang mendasari ancaman kasat mata ini adalah peta yang sama sekali berbeda yang menguraikan pergerakan carrier virus corona yang tidak terlihat, yaitu orang-orang yang memiliki gejala virus corona yang sangat ringan atau bahkan tidak memiliki sama sekali.

Menurut Robert Redfield, direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dikutip dari Science Alert mengatakan, 25 persen orang yang terinfeksi virus corona baru tidak menunjukkan gejala apa pun atau jatuh sakit tetapi masih dapat menularkan penyakit tersebut kepada orang lain.

Berikut penjelasan apa saja yang perlu diketahui dari penularan virus corona tanpa gejala atau asimptomatik dilansir dari berbagai sumber:

Apa yang kita ketahui tentang penularan asimptomatik dan presimotomatik

Konfirmasi pertama bahwa virus corona baru dapat ditularkan oleh orang tanpa gejala datang pada bulan Februari, ketika sebuah studi kasus menggambarkan seorang wanita berusia 20 tahun dari Wuhan, China, yang meneruskan virus corona ke lima anggota keluarga tetapi tidak pernah secara fisik sakit sendiri.

Sebuah laporan dari World Health Organization tentang wabah virus corona di China, yang diterbitkan pada bulan Februari, menemukan beberapa contoh di mana seseorang yang dites positif tidak pernah menunjukkan gejala apa pun.

Sebagai gantinya, sebagian besar orang yang tidak menunjukkan gejala pada tanggal diagnosa mereka (kelompok yang relatif kecil) di kemudian hari memiliki perkembangan gejala.

“Proporsi infeksi yang benar-benar asimptomatik tidak terlalu jelas, tetapi tampaknya relatif jarang terjadi,” tulis para penulis laporan.

Dalam studi WHO, 75 persen orang di China yang pertama kali diklasifikasikan sebagai asimptomatik kemudian mengalami gejala. Itu berarti, secara teknis, “transmisi presimptomatik” adalah yang mungkin terjadi pada umumnya.

Penelitian lain telah menegaskan kembali temuan ini. Sebuah studi CDC tentang pasien virus corona di panti jompo di negara bagian King County di Washington menemukan bahwa dari 23 orang yang dites positif, hanya 10 yang menunjukkan gejala pada hari diagnosa mereka. Sepuluh orang dalam kelompok lain mengalami gejala seminggu kemudian.

“Temuan ini memiliki implikasi penting untuk pengendalian infeksi,” catat para penulis, menambahkan bahwa banyak pendekatan kesehatan masyarakat “bergantung pada adanya tanda dan gejala untuk mengidentifikasi dan mengisolasi penduduk atau pasien yang mungkin memiliki COVID-19.”

Orang dengan presimptomatik menularkan infeksi virus corona tertinggi

Menurut perjalanan alamiah terjadinya sebuah penyakit, fase awal yaitu fase saat terpapar faktor risiko penyakit yang mengenai host atau manusia.

Selanjutnya yaitu yang disebut fase presimptomatik, yaitu fase dimulai terjadinya proses patologi penyakit yang apabila imun dari host (manusia) tidak dapat melawan masuknya penyakit maka proses patologi penyakit menjadikan seseorang terinfeksi dan sakit yang kemudian menunjukkan gejala.

Aspek yang sangat mengganggu dari penularan presimptomatik adalah bahwa, orang tampaknya lebih banyak menularkan virus corona pada saat tahap awal infeksi mereka. Tetapi permulaan gejala rata-rata membutuhkan waktu lima hari.

Penelitian yang meneliti 23 pasien virus corona di dua rumah sakit Hong Kong menemukan bahwaviral load individu atau kecepatan virus berkembang pada tubuh, dan berapa banyak partikel virus yang mereka bawa dan lepaskan ke lingkungan mereka memuncak selama minggu pertama dari awal gejala, kemudian secara bertahap menurun.

Seorang pasien SARS, sebaliknya,menularkan terbanyak sekitar tujuh hingga 10 hari setelah terlihat sakit.

Sebuah studi dari Guangzhou menemukan hasil yang serupa, di antara 94 pasien, orang yang paling menularkan adalah ketika gejala baru mulai ditunjukkan, atau sebelum gejala terlihat.

Anak-anak bisa menjadi pembawa asimptomatik

Satu kelompok potensial dari pembawa asimptomatik adalah anak-anak. Sejauh ini, anak-anak adalah kelompok dengan jumlah sedikit yang terinfeksi dan kritis oleh virus corona, tetapi beberapa anak, diduga mungkin terinfeksi ringan kemudian menyebarkan virus.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnalThe Lancetmengamati 36 anak yang dites positif virus corona antara 17 Januari dan 1 Maret di tiga rumah sakit Cina. Setengah dari anak-anak itu memiliki “penyakit ringan tanpa gejala,” tulis para penulis.

John Williams, seorang pakar penyakit menular anak di University of Pittsburgh Medical Center, mengatakan seperti yang dikutip dari ABC bahwa  “infeksi tanpa gejala adalah umum pada anak-anak, terjadi pada 10-30 persen kasus.

Mengenakan masker bisa membantu mengurangi penularan presimptomatik

WHO masih mempertimbangkan penggunaan masker secara luas untuk masyarakat umum yang sehat. Sedangkan CDC, baru-baru ini memberikan perubahan anjuran untuk mengenakan masker dari kain guna memperlambat penyebaran virus corona apabila ada seseorang yang terinfeksi tanpa gejala.

Prevalensi penularan presimptomatik kemungkinan merupakan alasan utama terjadinya perubahan.

Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, mengatakan dikutip dari CNN pada hari Rabu bahwa ia akan “condong ke arah” meminta semua orang untuk memakai masker apabila tidak mengurangi atau menyulitkan kebutuhan petugas kesehatan untuk mendapatkan masker.

Dia menambahkan pergeseran itu mungkin penting “terutama sekarang kita mendapatkan beberapa firasat bahwa ada penularan infeksi dari orang yang asimptomatik yang tidak batuk, yang tidak bersin, yang terlihat baik-baik saja.”

Perlindungan wajah untuk sebagian besar tidak menguntungkan pemakainya,sebagai gantinya, masker terutama melindungi orang lain dari kuman pemakai, karena mereka bisa terinfeksi tetapi tidak mengetahuinya.

Untuk saat ini, ketidakpastian tentang berapa banyak pembawa asimptomatik yang mungkin ada, dan berapa lama pembawa (carrier) tersebut menimbulkan risiko bagi orang lain yang berhubungan dengan mereka, adalah alasan mengapa kita harus mematuhi langkah-langkah jarak sosial/ jarak fisik.

Jika Anda terpapar seseorang dengan virus corona dan Anda terinfeksi, Anda dapat menyebarkan virus jauh sebelum Anda menyadari Anda sakit. Dan mengingat COVID-19 telah menyebar ke seluruh komunitas, Anda mungkin tidak tahu bahwa Anda telah terpapar.

“Orang-orang harus waspada tentang menghindari kontak dekat dengan orang lain dan tidak berasumsi bahwa hanya karena seseorang tidak sakit, mereka tidak membawa virus,” kata Gluckman seorang dokter penyakit menular di Penn Medicine dan direktur medis Penn Global Medicine, yang dikutip dari HuffPost. “Kita harus sangat, sangat, sangat agresif tentang isolasi diri.(yaya)