Arab Saudi Pangkas Harga Minyak, Ini Dampak Positif dan Negatif ke RI

fokusmedan : Arab Saudi memutuskan untuk tidak menahan pasokan dan memangkas harga minyaknya untuk kontrak April mendatang ke semua destinasi pasarnya. Hal ini merupakan respon dari menyebarnya virus corona.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan harga minyak dan pasar minyak dunia saat ini menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dengan sangat serius.

“Yang mungkin cukup mengagetkan adalah dari Saudi kemudian membuat suatu langkah yang jauh lebih bold, yaitu dengan memberikan diskon harga minyak yang lebih dalam lagi, ini menjadi suatu perang harga,” ujar Sri Mulyani di Aula Mezzanine, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (9/3).

Menurutnya, dampak harga minyak yang turun dalam kondisi ekonomi yang sedang tertekan justru menjadi salah satu bentuk positif karena tidak membebani negara-negara yang menjadi pasarnya. Termasuk mengurangi beban impor pemerintah.

“Kita tentu akan lihat dari berbagai aspek, kalau kita selama import minyak kita cukup besar, ya berarti penurunan harga minyak menjadi sesuatu yang bisa menjadikan penurunan beban dari pertamina untuk mengimpor dan yang lain lain,” imbuhnya.

Meski demikian, ada juga dampak negatif dari pemangkasan harga minyak ini. “Ini juga akan menimbulkan suatu ketidakpastian yang lebih besar terhadap capital market terhadap pasar modal gitu ya, sehingga dampak psikologisnya juga akan mempengaruhi dari sisi positifnya yaitu harga energi atau minyak dalam hal ini menjadi relatif murah,” jelasnya.

Namun, dia belum bisa mengetahui dengan pasti apakah harga minyak yang berlaku saat ini akan berlangsung dalam waktu jangka pendek atau untuk waktu yang lebih panjang.

“Saya harap nanti akan terlihat di dalam neracanya Pertamina. Dari sisi harga minyak, apakah ini akan dalam waktu jangka pendek dalam artian hanya bulan ataukah ini adalah untuk agak lebih panjang, yaitu kuartal atau semester. Itu masih akan dilihat bagaimana reaksi dari Rusia terhadap langkah yang dilakukan oleh saudi,” tandasnya.

Untuk diketahui, harga minyak mentah berjangka Brent anjlok 30 persen menjadi USD 31,02 per barel, level terendah sejak Februari 2016. Analis Goldman Sachs, Damien Courvalin memprediksi harga minyak Brent pada kuartal kedua dan ketiga menjadi USD 30 per barel, dan harga bisa turun ke posisi USD 20-an.

Pemotongan harga minyak oleh Arab Saudi menyusul kegagalan pembicaraan di Wina, pada pekan lalu. OPEC merekomendasikan pengurangan produksi tambahan 1,5 juta barel per hari mulai bulan April dan berlanjut hingga akhir tahun.

Tetapi sekutu OPEC, Rusia menolak pemotongan tambahan ketika kartel beranggotakan 14 negara dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC +.

“Mulai 1 April kami mulai bekerja tanpa memedulikan kuota atau pengurangan yang sudah ada sebelumnya,” ujar Menteri Energi Rusia Alexander.

Harga minyak telah bergerak turun tajam tahun ini karena wabah Virus Corona telah menyebabkan permintaan minyak mentah yang lebih lemah. Kekenyangan pasokan berpotensi dapat menekan harga lebih lanjut.(yaya)