Tantangan dan Kesempatan Ekonomi Indonesia Hadapi Wabah Virus Corona

fokusmedan : Wabah virus corona menahan percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020. Salah satunya disebabkan karena peran China terhadap ekspor, pariwisata dan investasi Indonesia ikut terganggu.

Tahun 2019, total ekspor Indonesia ke China menempati urutan pertama di sektor migas, non-migas dan 10 komoditas utama non-migas. Tiga komponen ini memiliki nominal USD 29,76 juta dengan pangsa pasar 17 persen dan share terhadap PDB 2,66 persen.

Begitu juga dengan impor, total impor juga menempati urutan pertama dengan nominal USD 29,42 juta, pangsa pasar 12,2 persen dan share terhadap PDB 2,63 persen.

Di sektor pariwisata, kunjungan wisman China ke Indonesia tahun 2019 mencapai 2,07 juta orang dengan pangsa pasar 12,9 persen. Dalam hal ini, China menempati urutan kedua setelah wisman asal Malaysia.

Devisa dari wisman China juga menempati urutan pertama mencapai USD 2,35 juta dengan pangsa 14,1 persen dan share terhadap PDB 0,21 persen. FDI China je Indonesia di tahun 2019 mencapai USD 4,74 juta dengan pangsa 16,8 persen dan share terhadap PDB 0,42 persen.

Dalam kondisi ketidakpastian ini, Bank Indonesia sebagai regulator tetap optimis bisa menjaga stabilitas perekonomian nasional. Dampak virus corona memang mengganggu ekspor Indonesia ke China.

Namun, Direktur DKEM IGP Bank Indonesia, Wira Kusuma mengatakan, bukan berarti Indonesia pasrah menerima kenyataan ini. Sebaliknya, ini dijadikan kesempatan dan tantangan baru Indonesia membuka jalur ekspor baru.

“Tantang kita ini bisa memaksa dan mencari kesempatan lain. Mungkin kita terlalu mengandalkan (ekspor),” kata Wira di dalam Pelatihan Jurnalistik Wartawan Bank Indonesia di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (29/2).

Kemudian terkait impor, produksi dalam negeri bisa digenjot untuk memenuhi permintaan konsumsi domestik dan daya beli masyarakat. Kini saatnya menggerakkan produksi dalam negeri. Mencari pengganti dari sumber daya yang dimiliki.

Soal ekspor, sebagai pecutan perbaikan industri manufaktur dalam negeri. Kondisi ini memaksa untuk memperkuat dan memberi nilai tambah sebelum dijual ke luar negeri. “Tantangan itu akan memaksa kita menginovasi dan kita cari opportunity (kesempatan) dan bikin kita survive,” kata Wira.

Harus Terukur

Hanya saja, optimisme yang dibangun juga harus terukur dan rasional. Sebab, ini jadi tolak ukur investor asing. Misalnya, dalam kondisi seperti ini Bank Indonesia juga tidak bisa memprediksi ekonomi tumbuh di atas 6 persen.

“Itu kan ngawur, yang penting itu optimisme rasional. Asesmen yang benar, imbangi dengan tabulasi dengan benar sehingga itu yang mendasari kredibilitas,” kata Wira meyakinkan.

“Apa yang mendasari penurunan proyeksi ada asesmen,itu yang dibaca sama pasar,” kata Wira.

Untuk diketahui, Bank Indonesia telah mengoreksi prospek ekonomi Indonesia tahun 2020 dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20 Februari lalu. Diprakirakan akan lebih rendah yaitu menjadi 5,0-5,4 persen, dari prakiraan semula 5,1-5,5 persen dan kemudian meningkat pada tahun 2021 menjadi 5,2-5,6 persen.

Revisi prakiraan ini terutama karena pengaruh jangka pendek tertahannya prospek pemulihan ekonomi dunia pasca meluasnya virus corona. Akibatnya, perekonomian Indonesia terpengaruh melalui jalur pariwisata, perdagangan dan investasi.

Inflasi diprakirakan tetap rendah dan stabil di kisaran sasaran 3,0 persen plus minus 1 persen pada 2020 dan 2021. Defisit transaksi berjalan pada 2020 dan 2021 diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran 2,5-3,0 persen PDB.(yaya)